Leave a comment

Tamparan bagi hati kita

Ugh, membaca kabar hari ini yang mengisahkan seorang pemulung yang kehilangan anaknya karena muntaber dan terpaksa menumpang KRL sambil menggendong mayat anaknya karena tak punya uang untuk menyewa ambulans dan menguburkan jenazah, sungguh sangat menyayat hati.

Dan semua orang yang menerima forwarded message itu juga merasakan hal yang sama: miris, menangis, prihatin, berduka, protes, mengurut dada, marah. Semua orang memang tergerak hatinya untuk mengekspresikan duka mendalam atas berpulangnya Khaerunissa dengan cara yang amat memilukan. Akan tetapi kami cuma bisa berekspresi, tergerak.

Lalu apakah tergerak saja sudah cukup? Kebanyakan dari kita hanya sampai pada sikap “tergerak”, namun tidak ingin “bergerak”. Mungkin memberi persembahan misi di gereja atau kotak amal di mesjid sudah cukup bagi kita (yang penting kan uangnya sampe gitu). Atau mengikuti dialog TV tentang cara pengentasan kemiskinan yang tentunya bakal rame ditayangkan. Setelah itu selesai, cuci kaki dan tertidur. Amin, saya sudah prihatin dan beramal.

www.mitayani.org

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: