Leave a comment

Financial Freedom

Pada zaman yang semakin keras ini, pemenuhan kebutuhan hidup jasmani dan rohani kita semakin mendesak untuk dicapai demi terciptanya sense of security pada diri kita, dan pada saat yang bersamaan kita juga semakin membutuhkan uang sebagai sarana untuk memenuhi kebutuhan jasmani dan rohani tersebut. Akan tetapi seringkali yang terjadi adalah kita meninggalkan pemenuhan kebutuhan dan berpaling pada pemenuhan keinginan. Needs (kebutuhan) yang berdasarkan pada rasio dan kalkulasi pendapatan dan pengeluaran pada akhirnya akan dikalahkan oleh Wants (keinginan) yang berdasar pada nafsu, dan bahkan gengsi.

Saya sendiri merasakan bahwa semakin lama stage kehidupan saya menjadi meningkat dari sebelumnya anak sekolah, mahasiswa, sampai menjadi profesional seperti sekarang. Dan seiring dengan meningkatnya level kehidupan tersebut, level kebutuhan saya pun meningkat. Dulu saya bisa puas hanya dengan makan gorengan dan minum es di pinggir jalan di depan sekolah saya, tapi sekarang saya perlu memasuki sebuah restoran mahal untuk menjamu tamu perusahaan. Atau keceriaan dengan teman-teman yang cukup dirasakan ketika bertemu di sekolah, gereja atau taman bermain pada waktu saya remaja, tetapi kini saya semakin tergantung dengan handphone dan komputer. Saya menyadari bahwa saya memerlukan sebuah handphone untuk menunjang pekerjaan dan komunikasi saya dengan teman-teman, akan tetapi meskipun saya sudah memiliki benda tersebut saya tetap akan tergiur dengan handphone model terbaru dengan harga yang lebih mahal pula. Setiap orang memiliki kisah sendiri-sendiri sehubungan dengan hal ini, namun pada akhirnya kita dapat menarik benang merah yang sama, yaitu kebutuhan yang dikalahkan oleh keinginan.

Pemenuhan kebutuhan (/kenginan) yang semakin mendesak akan menimbulkan masalah-masalah keuangan bagi orang yang tidak hati-hati, dan bahkan masalah-masalah tersebut dapat meluas ke berbagai problem pribadi dan keluarga. Hutang kartu kredit, pinjaman rumah, biaya pesta pernikahan dll. akan menjadi beban keuangan yang signifikan atau bahkan momok dalam kehidupan sehari-hari. Untuk itulah pada akhir-akhir ini banyak orang yang menawarkan jalan keluar dengan tema besar yaitu Financial Freedom. Financial Freedom adalah sebuah fenomena yang sudah lama dikenal oleh dunia, meskipun di Indonesia istilah ini lebih dipopulerkan oleh Robert T. Kiyosaki. Financial Freedom adalah suatu situasi di mana kita telah terbebas dari beban-beban keuangan dan menikmati hidup dan kebahagiaan yang seutuhnya. Namun demikian kita perlu menelaah terlebih dahulu tentang hakekat freedom yang sebenarnya kita mau.

Freedom atau kebebasan adalah hal yang telah dikenal sejak manusia diciptakan dan menjadi tema sentral dalam Alkitab, dengan pokok-pokok sebagai berikut:
1) Manusia jatuh ke dalam dosa karena godaan untuk memiliki kebebasan dan menjadi sama seperti Allah.
2) Penebusan oleh Yesus membebaskan manusia dari belenggu dosa.
3) Yerusalem Baru (Wahyu 21) adalah kebebasan sempurna manusia yang menerima mahkota kemuliaan Allah pada kesudahan zaman.

Model kebebasan yang diciptakan Allah pada waktu dunia diciptakan adalah Tuhan yang menjadi sentral dan satu-satunya Pribadi yang bersifat Independent. Sementara Manusia bersifat Dependent terhadap Tuhan, dan Ciptaan yang lain bersifat Supportive (mendukung) Manusia; dengan demikian kebebasan yang sejati (the ultimate freedom) berpusat pada Tuhan. Akan tetapi ketika manusia jatuh ke dalam dosa, maka Manusia tidak lagi mengenakan kebebasan sejati dan bergantung kepada Tuhan, melainkan mulai bergantung kepada Ciptaan lainnya. Ataupun sebaliknya Manusia menjadikan dirinya sebagai posisi sentral dimana Ciptaan lainnya bergantung kepada Manusia itu sendiri.

Ketika kita berbicara tentang hal kebebasan dalam konteks Financial Freedom, maka kita akan menemukan bahwa inti kebebasan yang dimaksud terletak pada kemampuan untuk memenuhi kebutuhan (/keinginan) apapun dengan sumber daya (/dana) yang sangat besar atau hampir tak terbatas. Ada banyak instrumen keuangan untuk mencapai kebebasan yang jenisnya tidak dapat saya sebutkan semua di sini. Semua instrumen itu dibuat ketika pada awalnya manusia merasa kuatir akan masa depannya dan kemampuan untuk mencukupi kebutuhan di masa depan itu. Namun ketika kita memeriksa kembali prioritas kita, maka kita akan menemukan bahwa sebagian besar pengeluaran kita sebenarnya adalah untuk memenuhi keinginan (wants), dan bukan kebutuhan (needs). Yang saya butuhkan adalah sehelai baju untuk menutupi badan, namun yang saya beli adalah sehelai kemeja bermerek terkenal demi memuaskan keinginan; atau pola makan tiga kali sehari yang normal kemudian digantikan dengan gaya hidup mewah dengan makan di restoran terkenal, dsb.

Saya bukan bermaksud menutup diri terhadap pilihan investasi keuangan. Akan tetapi saya disadarkan bahwa motivasi untuk berinvestasi pun harus seturut dengan kehendak Allah. Usaha-usaha untuk mencapai kebebasan finansial hendaknya dilandasi pada 2 tataran berikut:

Act of Thinking: Mengubah Cara Pandang
Berinvestasi untuk mempersiapkan masa depan dan mencapai kebebasan finansial selayaknya bukan bertujuan untuk memiliki banyak uang, sebab kebebasan finansial dengan banyak uang bukanlah kebebasan sejati yang kita dapatkan dari Allah, melainkan kebebasan semu yang berpusat pada diri sendiri dan sesungguhnya meng-hambakan diri kepada uang.

Kebebasan finansial yang menjadi tujuan kita sebenarnya hanyalah bagian kecil dari kebebasan sejati yang kita miliki dalam Tuhan, yaitu penebusan oleh Yesus dan pembebasan sepenuhnya dari belenggu fisik yang akan kita terima pada kesudahan zaman. Dan kebebasan finansial yang kita miliki selayaknya merupakan keadaan yang selaras dengan kehendak Tuhan selama kita hidup di dunia.

Act of Doing:
– Berikan dahulu apa yang menjadi hak Tuhan (perpuluhan, persembahan)
– Cukupkan diri dengan apa yang ada
– Kendalikan diri terhadap keinginan-keinginan
– Rencanakan, tabung dan investasikan pada instrumen yang benar di mata Tuhan
– Minta hikmat Tuhan dalam mengelola kehidupan dan keuangan kita

=====

Post Script:

Tulisan di atas adalah kesimpulan pribadi atas paparan tentang Financial Freedom yang saya ikuti dalam sebuah seminar di GII Hok Im Tong Jakarta, tanggal 9 September 2005. Tulisan ini adalah hasil perenungan dari sesi pertama seminar tersebut dan hanya berupa refleksi tentang apakah itu kebebasan finansial dan segala instrumen investasinya, yang seharusnya juga merupakan tindakan iman yang nyata terhadap Allah seturut dengan kehendak-Nya. Sayang sekali sesi kedua dalam seminar itu tidak membahas tuntas tentang problema seputar kebebasan finansial, sehingga saya hampir tidak mendapatkan inti yang penting. Namun demikian saya bersyukur karena Tuhan membuka pikiran dan hati saya terhadap iman yang harus diterapkan dalam kehidupan nyata dan praktis, termasuk dalam hal menata keuangan dan investasi.

Praise be to God for great things He has done !!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: