1 Comment

George

George namanya. Yang kuingat adalah kulitnya begitu putih seperti melati merekah dan wajahnya menyungging senyum. Dia datang pagi itu diiringi serombongan pria dan wanita yang kukenal sebagian dari gereja kami. Sedari pagi aku sudah siap menyambutnya, karena aku tidak sabar ingin melihat wajahnya.

George rupanya. Dia mengenakan baju putih bersinar dan digendong oleh Papa. Wah, keretanya mana? Karena biasanya anak kecil akan didudukkan di kereta bukan?, begitu pikirku. Namun yang tersedia adalah sebuah meja kayu beralaskan bantal kecil dan selimut. Ini bukan cara yang biasa untuk menyambut tamu bukan? Lalu kenapa semua terbalut warna hitam muram dan menyandang duka? Ah, aku yang masih berusia 9 tahun rasanya belum paham benar apa artinya duka. Yang kulihat adalah banyak orang yang menangis, terutama Papa. Aku menunggu-nunggu Mama namun ia tidak kelihatan. Sakitkah ia?

George manisnya. Perlahan kain putih itu terbuka dan tersingkaplah wajahnya. Putih dengan menyandang seutas senyum. Jemari kecilnya lentik namun menggenggam erat. Tubuhnya kaku namun damai. Ah, cuma dia sendiri yang tersenyum sementara yang lain menangis. Aku pun menangis juga, namun belum mengerti kenapa aku mesti menangis.

George sedihnya. Hanya sedepa saja matahari bergerak, iapun sudah diangkat dari peraduannya. Tak perlu banyak orang, cukup satu lengan pun berangkatlah. Menembus teriknya hari ia pun sampai di sebuah taman. Sejengkal luas tanahnya diambil, sebagai gantinya kau pun ditidurkan di sana. Doa dinaikkan, meski aku tidak tahu mana yang akan sampai dari 2 ragam doa yang berkumandang di sana.

George damainya. Selepas SMA pernah kucari kembali makamnya. Tidak bisa kutemukan namanya. Mungkin nama lain yang tertera pada nisannya. Air mata tumpah ruah di tengah siang bolong di ranah kegalauan mencari makam yang hilang. Namun aku tahu di mana rumahnya yang abadi, bahwa jasad akan berlalu namun roh tinggal tetap. Rumah di bumi boleh tertelan namun rumah di surga tetap bersinar. Wajahnya boleh terhapus dari pigura, namun di hati terukir senyumnya.

In loving memory of:
Otto Benny George Marlissa
Lahir 13 Desember 1983, pukul delapan kurang dua puluh
Wafat 13 Desember 1983, delapan jam kemudian

Celebrating the life of:
Ronald Patrick Marlissa
Lahir 13 Desember 1984, pukul delapan lewat dua puluh

Tuhan penyeka air mata kita!

One comment on “George

  1. Dear Bung Brad, kenapa saya jadi ikut-ikut kelabu baca ini ya? George mudah-mudahan selalu ‘hidup’ di hati orang-orang yang pernah mengenal dan mengenang kebaikannya. Senang sekali, Bung Brad bisa juga bersendu ria, disamping bercanda dengan tulisan ngokotnya. Salam dari yang ngikutin terus tulisan2nya. Hebat. Terbitin bareng yooook

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: