1 Comment

Back on Track

Sudah cukup kita tiarap dari dunia blog. Sekarang waktunya bergembira ria! CIHUYYY!!

Minggu ini saya lelah, pulang selalu lewat jam 9 malam, bahkan kemarin saya tiba di rumah mendekati pukul 1 pagi. I know, it’s crazy. Gila karena 2 alasan: menghabiskan energi, dan menghabiskan uang untuk makan malam dan ongkos taksi. Saya akui bahwa saya gak berpikir panjang dalam hal menyimpan tenaga dan keuangan dalam minggu ini. But I believe it’s all for a good cause.

Berawal dari seorang teman yang share tentang berkat-berkat yang dia dapat dari Tuhan melalui sebuah retreat minggu lalu, kita jadi menghabiskan waktu berhari-hari untuk mendiskusikan topik retreat itu. I was truly touched by his testimony about how God has changed his life and taken away some bitter roots in his heart. Dan tanpa disangka-sangka, kesaksian hidup dia pun mengubah hidup saya. Luar biasa bahwa Tuhan bekerja begitu indah dalam kehidupan tiap orang, yang meski konteks pergumulan tiap orang berbeda, namun pada akhirnya membuahkan pengharapan dan iman yang sama.

Gosh, hidup di Jakarta memang berat. Kita gak perlu jadi psikiater untuk menebak bagaimana kira-kira kondisi kehidupan mental seseorang. Cukup melihat mata dan gerak-geriknya kita sudah dapat mengerti bahwa dia sedang bergumul akan sebuah masalah yang lumayan berat. Orang-orang seperti itu (seperti saya maksudnya) semakin banyak terlihat, bahkan di dalam tempat ibadah. Tempat ibadah bukanlah kumpulan orang saleh, melainkan kumpulan orang berdosa dan berbagai macam pendosa dapat kita temui di sana. Teman yang kita salami di ruang makan bisa menebarkan senyum manis ke wajah kita, namun siapa tahu kalau dia menyembunyikan obat-obatan berbahaya di tasnya untuk dia minum sesudah pulang ke rumah dan mengakhiri hidupnya sendiri. Atau seorang anak laki-laki yang bersemangat dalam sebuah ibadah, namun menyimpan dendam terhadap ayahnya dan berencana untuk membunuh orang tuanya di minggu depan.

Tempat ibadah pada hakekatnya adalah sebuah rumah sakit. Namun kondisi rumah sakit yang kita temui pada umumnya menyedihkan. Hanya ada seorang dokter dan beberapa perawat yang harus pontang-panting merawat pasien yang begitu banyak. Belum lagi obat-obatan yang tersedia hanya sedikit dan kualitasnya rendah.

Pernahkah Anda menonton film Patch Adams? Dr. Patch Adams adalah seorang dokter yang berani mendobrak kekakuan institusi medis di Amerika Serikat dengan menjalankan metode pengobatan “kreatif” di klink yang ia dirikan sendiri. Hanya ada 4 orang dokter yang mengawasi klinik itu. Sisanya adalah para perawat yang tidak digaji namun dengan sukarela merawat pasien, membersihkan WC, mengecat dinding, membereskan pembukuan dan memasak. Siapakah mereka? Mereka adalah pasien-pasien itu sendiri, atau bekas pasien yang sudah sembuh namun tetap bersedia membantu di klinik itu. Mereka bersedia membantu karena mereka sudah merasakan sendiri kebaikan para dokter dan pasien lainnya dalam proses penyembuhan mereka. Ketika sukacita kesembuhan mereka dapatkan, mereka bagikan sukacita itu kepada orang lain.

Bagaimana dengan film Pay It Forward? Sekelompok anak SD di dalam kelas mendapat tugas dari gurunya untuk mengubah dunia. Err, mungkin yang ada dalam pikiran anak-anak tersebut adalah: apakah Pak Guru ini sudah gila? Tugas semacam itu kan … susah, aneh, tidak mungkin. Namun ada satu anak yang benar-benar serius memikirkan hal itu, dan dia memutuskan untuk mengubah dunia dengan cara berbuat baik pada satu orang yang ditemuinya. Satu orang.

Tempat ibadah adalah rumah sakit sekaligus ruang kelas. Para pasien datang ke rumah sakit untuk disembuhkan dan selanjutnya menyembuhkan orang lain. Tanpa bantuan para bekas pasien itu, rumah sakit tersebut tidak akan jalan. Obat-obatan yang baik juga diperlukan agar para pasien berada di jalur yang benar (the right track) dalam proses penyembuhan mereka. Ruang kelas dibuka agar setiap orang yang datang dapat belajar untuk meneruskan keterampilan menyembuhkan dan membagikan kasih itu kepada orang lain.

Saya rindu agar tempat ibadah di mana kita berada dapat menjadi tempat seperti itu, di mana setiap kita dalam pro-aktif dalam memperhatikan orang lain, menjadi bahu bagi mereka, menampung air mata mereka, menjaga dengan baik kepercayaan akan rahasia-rahasia mereka, dan memegang tangan mereka agar tetap berada di jalur yang benar. Tidak perlu semua orang kita gandeng. Satu orang saja! Itu cukup untuk mengubah dunia!

Selamat menyambut Kebaktian Penyegaran Rohani – Back on Track.
Kiranya Tuhan menyertai kita sekalian agar hati kita tetap murni dalam melayani Dia.
Praise be to God!

Amin.

One comment on “Back on Track

  1. let’s roll for Jesus, brother….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: