5 Comments

Pati Night Safari

Semarang, 1 Agustus 2006.

Brad: Halo Pak Dokter! Eh gue di Semarang nih.
Dr. E: Hah??? Elu ke Pati dong. Cuman 2 jam dr Semarang!

Tergopoh-gopoh setelah menukar tiket kereta di Stasiun Semarang Tawang, gue langsung menuju ke Terminal Bis Terboyo. Akhirnya gue bisa menghempaskan diri di kursi bis AC Ekonomi jurusan Semarang-Surabaya pada jam 17.30. Ugh, ini bakal menjadi perjalanan yang menyiksa gue selama 2 jam, karena bis AC ini sangat berbau apek. Huek!

Next destination: Pati. Kabupaten dengan luas 1,400 km2 dan berpenduduk 1.2 juta jiwa ini memiliki ibukota dengan nama yang sama dan berjarak 75 km di sebelah timur Semarang, ibukota provinsi Jawa Tengah. Wilayah ini dikenal dengan ribuan hektar kebun kacang dan merupakan penghasil kacang tanah yang cukup dikenal, terutama melalui 2 merek snack kacang yang terkenal di Indonesia. Ini dibuktikan dengan megahnya gerbang kota Pati menyambut para pendatang dengan dihiasi iklan salah satu produsen kacang atom terbesar di Indonesia ini. Namun selain komoditas kacang tersebut, tidak banyak yang bisa dicatat dari wilayah ini.

Perjalanan gue ke Pati ini juga terbilang nekat karena direncanakan secara tiba-tiba. Tujuan utama gue adalah menemui teman lama yg cuma gue kenal di internet dan kopdar satu kali di Depok sewaktu dia masih praktek di sana sebagai dokter jaga. Namun bulan Mei lalu dia mendapat tugas PTT di Pati selama 3 tahun dan setelah itu memang gak ada rencana utk pulang ke Jakarta lagi. Jadi sewaktu gue di Semarang gue mikir, kalo gue gak maksain ketemu dia sekarang, entah kapan lagi kita bisa ketemu. Jadilah sore itu gue bela-belain mengganti jadual tiket kereta api dan terus mengejar angkot ke Terboyo. Sial, jalan2 di sekitar terminal itu ternyata sedang di-cor sehingga kemacetan luar biasa terjadi di sana. Akhirnya gue turun dari angkot dan berjalan kaki sekitar 500 meter.

Pukul 19.30 bis memasuki kota Pati dan gue berhenti di perempatan Randu Kuning, sesuai petunjuk temen gue. Kesan pertama gue tentang kota ini: sepi banget. Jalan2 gak banyak dilalui kendaraan dan rumah2 sudah menutup pintunya. Tapi setelah temen gue menjemput dengan motornya dan mengajak gue jalan2, gue mulai melihat sedikit geliat di kota ini. Aktivitas masyarakat di malam hari terpusat di sekitar Alun-Alun, layaknya kota2 lain di Jawa Tengah yang memiliki alun-alun dan mesjid raya sebagai pusat kotanya. Alun-alun kota Pati cukup ramai dengan pedagang kaki lima dan warung tenda yang menjual beraneka makanan lezat, terutama Nasi Gandhul yang menjadi makanan khas daerah ini. Gue gak sempet mencicipi makanan ini, tapi temen gue bercerita bahwa makanan ini terdiri dari nasi berkuah dengan lauk utamanya jeroan sapi!!!! Wah, untung gue gak nyoba! Hehehe.

Kota ini cukup compact dan kecil sehingga dalam waktu 1 jam praktis gue udah menyusuri semua jalan utama dan bisa memahami peta kota tersebut. Gak banyak yang bisa ditemui di kota ini selain pusat pemerintahan daerah, beberapa bank, serta beberapa pasar dan ruko yang tersebar di seantero kota dan jumlahnya juga tidak banyak. Pusat perbelanjaan terbesar di Pati adalah sebuah department store yang bernama “Luwes” yang isinya tidak lebih lengkap dari toko Pojok Busana yang sering kita temui di mall-mall di pinggiran Jakarta. Kalau mau mencari tempat makan, biasanya kita akan pergi ke warung tenda atau warung lesehan yang cukup banyak tersebar di jalan-jalan utama.

Tapi satu hal yang menakjubkan gue adalah murahnya harga-harga. Berhubung perut udah lapar berat sewaktu turun dari bis, gue memutuskan utk makan malam di warung terdekat sambil menunggu Pak Dokter menjemput. Pesen Nasi Pecel dan segelas teh hangat. Tadinya udah mau ngambil kerupuk tapi ragu2 setelah melihat bungkusnya yang besar dan isinya yang banyak. Namun pada waktu membayar, gue terbelalak dengan angka yang disebutkan. Cuma 3,500 rupiah! Dan memang temen gue bercerita bahwa di Pati harga-harga masih sangat murah dibandingkan Jakarta, dan dia sendiri cuma menghabiskan 10,000 rupiah per hari untuk 3 kali makan kenyang ditambah cemilan. Wow! Lalu kamar kos berukuran 4×6 meter yang cuma disewakan dengan harga 170,000 rupiah saja sebulan.

Kembali lagi ke Safari Malam kota Pati. Hampir semua toko dan warung tenda sudah mulai menutup usahanya pada sekitar pukul 22.00, jadi sudah tidak banyak lagi yang bisa dilihat. Kaki pun melangkah pulang. Setelah berjalan-jalan gue jadi mikir, bagi gue satu2nya daya tarik kota ini adalah harga2 barang yang masih relatif murah, namun utk bekerja dan tinggal di sini kayaknya gak mungkin deh. Bisa tumpul otak gue kalo dalam 1 minggu gak ada kunjungan minimal sekali ke Starbucks! Bwahahahahaha.

Akhirnya perjalanan gue ke Pati pun usai. Gue gak sempat melihat Pati disinari matahari karena gue tiba di sini pada jam 7 malam dan sudah bergerak lagi meninggalkan kota ini pada jam 5 subuh untuk kembali ke Semarang dan selanjutnya mengejar kereta jam 8 pagi untuk kembali ke Jakarta. Cuma 10 jam saja gue berada di kota itu, dan sudah lebih dari cukup!🙂

5 comments on “Pati Night Safari

  1. di jawa tengah dan timur pada umumnya, harga barang (makanan) bsia bikin kita yg dari jkt terkaget² deh :p

  2. asiknyaaaaaa jalan jalan..hehe

  3. Aduch Brad…brad…….kamu itu lagi jalan-jalan atau pegawai BPS yang ditugasi meninjau Pati ????????But, it is good…..

  4. gitu yah…. udah ngambil bus jurusan sby tapi ngga diterusin skalian sampe ke sby *ngasah-ngasah belati*

  5. Mudah2an perjalanannya banyak berkesan dan bisa dapet banyak oleh2 yah…Kapan jalan-jalan main kesini🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: