Leave a comment

Penerjemahan Lisan & Tulisan

Penerjemah sudah menjadi profesi yang dibutuhkan dalam berbagai bidang dan kepentingan. Profesi ini tidak tergantikan oleh mesin atau software penerjemahan yang sekarang ini banyak beredar. Semakin luas bidang ilmu pengetahuan yang dikuasai oleh seorang penerjemah dan semakin banyak bahasa yang dikuasainya, maka semakin mahal pula tarif jasa penerjemahan yang bisa kita pasang pada para klien. Melalui tulisan ini saya ingin sedikit berbagi pengalaman pribadi mengenai perbedaan 2 jenis kegiatan penerjemahan, yaitu penerjemahan secara lisan dan secara tulisan.

Kegiatan penerjemahan secara lisan telah saya lakukan sejak tahun lalu. Yang dimaksud penerjemahan lisan atau interpreting adalah menginterpretasikan secara langsung pembicaraan orang lain dalam bahasa sumber untuk kemudian diterjemahkan ke bahasa sasaran; baik secara simultan maupun kalimat-per-kalimat. Penerjemahan simultan berarti kalimat si pembicara dan si penerjemah keduanya keluar pada saat hampir bersamaan; biasanya yang terdengar oleh publik hanyalah suara si pembicara sedangkan si penerjemah berbicara melalui mikrofon yang kemudian diteruskan kepada publik tertentu yang menggunakan alat pendengar untuk menerima suara si penerjemah. Jadi publik umum hanya memandang si pembicara sementara si penerjemah biasanya bersembunyi di bilik tertutup. Cara ini lazim digunakan sewaktu konferensi resmi. Sedangkan penerjemahan kalimat-per-kalimat adalah si pembicara menjelaskan satu kalimat atau satu poin penting lalu dipotong oleh penerjemah yang kemudian menyampaikan isi kalimat tadi dalam bahasa sasaran. Jadi posisi penerjemah biasanya berdiri langsung di samping pembicara, dan publik dapat mendengar dan melihat baik si pembicara maupun si penerjemah.

Lain halnya dengan penerjemahan tulisan. Kita menerima bahan tulisan untuk diterjemahkan ke bahasa sasaran. Biasanya kita akan menegosiasikan dahulu syarat dan harga serta waktu pengerjaan sebelum kemudian kita menerjemahkannya. Dalam kegiatan ini yang kita gunakan adalah jari untuk mengetik, bukan mulut yang berbicara.

Kedua jenis penerjemahan ini telah saya lakukan, namun kalau ditanya mana yang lebih sulit, saya jawab tidak ada yang lebih sulit karena keduanya tidak bisa dibandingkan begitu saja. Dalam penerjemahan lisan, tidak ada kamus atau alat bantu apapun kecuali catatan kecil yang dapat kita gunakan untuk mencatat ide-ide dari pembicara agar informasi yang disampaikan tidak ada yang terlewatkan. Sedangkan dalam tulisan, kamus juga belum tentu menyelamatkan keadaan karena kita juga harus menimbang konteks tulisan dan ketepatan memilih kata, terutama apabila kita sedang menerjemahkan sebuah dokumen hukum. Tiap jenis pekerjaan mempunyai kenikmatan dan kadar stress tersendiri.

Saya telah melaksanakan pekerjaan ini selama hampir 2 tahun, tetapi sejauh ini semua berjalan secara otodidak; tidak ada ilmu yang dipelajari, semua mengalir begitu saja. Tentunya saya tidak boleh berpuas diri sampai tahap ini saja; baiknya pekerjaan ini ditingkatkan mutunya dengan cara belajar lagi agar tulisan dan pembicaraan yang saya sampaikan menjadi lebih sempurna. Bagaimana konkretnya? Hmm, nanti pelan-pelan saya bagikan ya ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: