Leave a comment

Vonis = keputusan absolut?!

Semua orang pastinya sudah tahu dan deg-degan menanti hari ini: vonis atas terdakwa kasus pembunuhan Nasrudin Zulkarnaen. Para eksekutor diganjar hukuman rata-rata 17-18 tahun; sedangkan para aktor intelektualnya rata-rata 5-18 tahun (selengkapnya telusuri detik.com per hari ini; banyak beritanya). Lalu bagaimana implikasinya bagi saya? Puaskah?

Apakah rasa keadilan sudah terpenuhi atau belum,  itu tergantung dari sudut pandang mana anda menilainya, sebab seperti yang kita lihat hari ini, ada 2 keluarga yang sama-sama menangis; keluarga AA menangis karena vonis 18 tahun terlalu berat, sedangkan keluarga korban menangis karena vonis bagi AA terlalu ringan. Pandangan masyarakat pun sepertinya tersedot ke dua kubu itu. Akan tetapi pandangan masyarakat tetaplah sebuah opini; tidak ada sesuatu pun yang absolut yang menjadi pegangan.

Mengapa saya menganggap tidak ada sesuatu pun yang absolut? Fakta di persidangan (atau pada kasus lain) yang terbuka sebenarnya tidak banyak. Yang terjadi adalah adu argumen antara JPU dan penasihat hukum yang berkepanjangan sehingga terkesan debat kusir saja. Sesuatu yang absolut adalah fakta (atau bukti) yang bersifat sahih dan tidak dapat digugat. Hal ini tidak dapat dihadirkan oleh JPU, yaitu bukti kuat yang membuat AA dan para aktor intelektual lain tidak bisa berkutik akan perbuatan kriminal yang (mungkin) mereka lakukan. Sementara itu penasihat hukum pun demikian; jikalau para terdakwa memang tidak melakukannya, tidak ada tersangka lain yang bisa dihadirkan.

Saya tidak mengerti mengapa setiap kali mengikuti proses hukum atau politik di Indonesia, saya tidak dapat menangkap fakta absolut yang mendasari sebuah pengambilan keputusan; semua “fakta” dapat dibantah oleh pihak-pihak yang berseberangan. Kemudian permainan di belakang layar yang licik dan rapi juga turut memperkeruh suasana labil tersebut. Ditambah lagi opini publik yang semakin membingungkan keadaan.

Pada titik inilah saya merasa bahwa vonis hari ini belum memenuhi rasa keadilan. Bahwa para terdakwa bersalah ataupun tidak, pada akhirnya hanya bisa ditentukan oleh pihak mana yang lebih kuat argumentasinya, dan bukan pada fakta absolut. Dan maaf, saya skeptis bahwa selama hidup saya akan melihat dunia politik dan peradilan Indonesia akan berubah drastis menjadi mandiri, adil, dan memenuhi rasa keadilan. Semoga anak-cucu kita kelak tidak mewarisi kebodohan para pendahulunya.

===

Tulisan ini mewakili pendapat pribadi saya, tidak dapat menjadi acuan bagi pengamatan secara ilmiah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: