17 Comments

Rindu Pulang

source: virtualtourist.com

Pernahkah Anda merasa rindu pulang? Saya pikir itu adalah perasaan yang sangat wajar dialami oleh kita semua. Mulai dari rindu pulang ke rumah sampai rindu pulang kampung.

Rumah, kampung, pulau, daerah, negara, adalah tempat kita mengidentifikasi keberadaan kita sekaligus tempat mengakar dan bertumbuh. Identifikasi ini membuat kita merasa dimiliki dan memiliki sesuatu. Lalu apa jadinya bila kita kehilangan rumah atau kampung sebagai identitas kita? Coba perhatikan orang-orang yang digusur rumahnya atau warga desa yang terpaksa mengungsi karena kampungnya hancur terkena bencana. Bukan hanya sandang dan pangan yang mereka perlukan, namun yang terlebih penting adalah: mereka perlu rumah sebagai tempat berteduh dan membangun budaya.

Read More

Advertisements
22 Comments

Salah Bantal

Source: topnews.in

Nama yang lucu memang. Seorang narablog menyebut istilah ini adalah kebiasaan orang Indonesia yang paling suka mencari kambing hitam. Ya benar juga, apa salahnya si bantal malang itu sehingga mendapat caci-maki dan menjadi topik pembicaraan banyak orang, mulai dari ibu rumah tangga sampai para dokter?

Beberapa hari yang lalu saya juga ikut mencicipi salah bantal ini. Berkat semalaman tidur sambil menekuk leher, jadilah pagi hari saya bangun dengan rasa sakit yang luar biasa pada leher sebelah kiri dan menjalar sampai ke bahu kiri. Kepala saya tidak bisa menengok ke kiri dan kanan karena begitu leher bergerak sedikit saja, saya langsung meringis. Lalu apa sebaiknya yang saya lakukan? Setelah coba gugling ke sana ke mari, saya sampai pada beberapa rekomendasi. Namun berhubung saya cuma membaca beberapa postingan blog orang dan malas membuka situs kesehatan, maka rekomendasi berikut ini semua berdasarkan “katanya”: Read More

25 Comments

Bank Syariah di Mata Seorang Non-Muslim

Geliat perbankan syariah semakin terasa di seluruh lapisan masyarakat Indonesia. Eh, benarkah seluruhnya? Coba kita renungkan lagi.

Baca Selengkapnya

19 Comments

Amprokan: Mendobrak Birokrasi

Gegap –gempita Amprokan Blogger di Bekasi yang baru berlalu masih jelas di ingatan saya. Saya sendiri heran mengapa saya bisa sampai mengikuti acara tersebut. Februari 2010, diawali niat menggiatkan lagi aktivitas ngeblog setelah sekian lama hiatus, saya lalu tidak sengaja menemukan Komunitas Blogger Bekasi dan secara kebetulan pula Be-Blog akan mengadakan perhelatan akbar. Maka saya pun memutuskan untuk ikutan. Ada beberapa poin yang ingin saya refleksikan di sini:

Baca Selengkapnya

21 Comments

Refleksi Film Balibo

Apa yang mampir di benak Anda ketika mendengar bahwa sebuah film tidak lolos sensor dan dilarang diputar? Kalau saya sih berpendapat bahwa kebebasan menonton film seharusnya tidak dilarang. Lalu kalau Anda ditawari menonton filmnya, apa Anda mau? Saya menemukan film “Balibo” secara tidak sengaja di rak DVD bajakan di Jakarta. Sebagai orang yang dibesarkan dan menempuh pendidikan sekolah pada era Orde Baru, tentunya saya kenyang dengan sejarah versi pemerintah mengenai integrasi Timor-Timur. Maka terbelalaklah mata saya ketika disuguhkan pandangan lain sejarah itu melalui film ini.

Baca Selengkapnya

12 Comments

Melacak Jejak di Depok

Depok adalah sebuah kota satelit di Jakarta. Setara dengan kota-kota satelit lain di pinggiran Jakarta, kota Depok juga mengalami kemajuan pesat seiring dengan perkembangan ibukota. Menurut sejarah, kota Depok bermula dari tahun 1696 ketika Cornelis Chastelein membeli sebidang tanah dan kemudian mewariskan tanah tersebut kepada para pekerjanya (lihat kisah selengkapnya di sini). Namun terlepas dari sejarahnya yang khas, kota Depok mengalami perkembangan yang hampir mirip dengan kota-kota penyangga Jakarta lainnya dalam beberapa dasawarsa terakhir. Salah satu momentum perubahan wajah Depok adalah ketika Universitas Indonesia memindahkan kampusnya ke sana, dan disusul beberapa kampus lain seperti Universitas Gunadarma. Perlahan tapi pasti, Depok berubah wajah. Para mahasiswa yang berdatangan lalu turut mewarnai kota ini, khususnya pada sebuah jalan utama, yaitu Jalan Margonda Raya.

Depok adalah tempat saya menghabiskan waktu kuliah pada dekade yang lalu (jadi bisa mengira-ngira umur saya berapa kan?!). Tentunya saya juga menghabiskan banyak waktu di Jalan Margonda. Di jalan ini saya pernah tertabrak mobil (Tuhan sayang sama saya; waktu itu saya sama sekali tidak mengalami luka kecuali rasa sakit ringan), menunggu angkot, menyambangi tempat-tempat makan, dan nge-warnet. Saya hafal deretan toko-toko di sana, terutama mulai dari mulut gang Kober sampai dengan Kampus Gunadarma. Intinya, sepanjang jalan Margonda menyimpan banyak kenangan buat saya (tsahhh!).

Selepas kuliah saya jarang berkunjung lagi ke Depok. Namun setiap kali saya kembali ke sana, saya selalu tercengang dengan wajah Depok yang cepat sekali berubah. Akhirnya saya memutuskan untuk mencari kembali “wajah lama” Jalan Margonda, bertepatan dengan undangan karaokean teman-teman deblogger pada hari Minggu kemarin. Acara karaokenya bertempat di Mall Depok; saya tahu tempat itu, cuma ancer-ancer yang diberikan lewat milis membingungkan saya (Index sama Ace Hardware itu dimana ya? Perasaan dulu belum ada). Akhirnya setelah kelar bernyanyi-nyanyi, saya putuskan untuk menyusuri kembali Jalan Margonda, mulai dari Margo City ke arah utara.

Margo City sendiri adalah sebuah mall baru; saya baru dua kali berkunjung ke situ. Nah, ada satu objek menarik ketika kita memasuki mall tersebut. Tepat di samping kiri pintu masuk utama, kita akan menemukan sebuah rumah tua yang sudah direnovasi dan dijaga kelestariannya oleh manajemen mall. Memang situs ini sudah menjadi bagian dari kompleks mall, namun keberadaannya masih dijaga meski fungsinya sudah dialihkan menjadi sebuah kafe.



Tampak depan The Old House, Margo City, Depok

Penjelasan singkat tentang the Old House, dapat dibaca di blog sungaikuantan.com

(dengan gambar-gambar yang lebih baik dari hasil jepretan kamera ponsel saya).

Lepas dari Margo City, saya menyusuri Jalan Margonda ke arah utara. Yang saya cari bukanlah objek wisata, melainkan tempat-tempat apa saja yang masih dapat saya kenali dari zaman kuliah dulu. Saya memilih berjalan kaki meskipun jalan ini telah diperlebar menjadi empat lajur. Bukannya apa, namun jumlah kendaraan yang melintas sudah sangat berlimpah sehingga jalan tersebut macet luar biasa (padahal itu hari Minggu). Secara umum Jalan Margonda memang sudah banyak berubah. Ada banyak ruko baru, lalu gedung-gedung perkantoran, fasilitas umum, sampai kompleks apartemen. Deretan bangunan lama juga masih banyak; fungsinya sebagai tempat usaha juga masih sama kecuali namanya saja yang berubah. Yang membuat saya penasaran adalah apakah kos saya dulu masih tersisa. Sayang sekali saya tidak menemukan bekas-bekasnya lagi. Dulu bangunan kos saya memiliki halaman yang luas dan rimbun di depannya, meski masih juga terletak di tepi jalan raya. Namun setelah mengingat-ingat kembali dan menghitung langkah, saya mengambil kesimpulan bahwa kos saya sekarang sudah dirombak menjadi sebuah kafe:

Zoe's Cafe, Margonda, Depok

Setelah tertegun memandangi bangunan ini saya lalu melanjutkan langkah. Tidak enak juga lama-lama di situ karena ada pelayan yang memperhatikan saya. Sampai akhirnya saya berhenti di depan Gang Kober dan memutuskan makan di sebuah restoran bakmi langganan saya dulu. Wah, rasa bakmi yang dulu saya anggap enak, kok sekarang jadi terasa biasa saja ya?!

Wajah Depok sekarang tidak saya kenali lagi; hanya sedikit sisa-sisa yang masih dapat ditemukan. Itulah dampak pembangunan. Meski saya bersyukur karena Depok sekarang semakin maju dan para mahasiswanya terlihat semakin progresif, tak urung saya merasa sedih juga karena tidak banyak lagi kenangan di sana. Ataukah ini perasaan normal untuk seseorang yang beranjak tua dewasa dan cuma ingin mengenang kembali masa lalunya?

Sebagai penutup, saya ingin menyajikan sebuah gambar remaja Depok yang sedang berkompetisi band di mall yang tadi saya kunjungi. They’re surprisingly good. Ah, meski sudah berubah, semoga wajah Depok ke depan menjadi semakin manusiawi.

Cool boys singing

13 Comments

Blogging = kebutuhan?!

“Blogging itu kebutuhan,” demikianlah tagline yang menggelayut di kepala saya sepanjang sore ini. Sebenarnya dunia nge-blog sudah saya jalani selama hampir 5 tahun; tentunya dengan pasang-surut sepanjang periode itu. Namun di balik pasang-surut itu toh sekarang saya masih nge-blog juga, bahkan lebih jauh lagi dengan cara bergabung dengan 2 komunitas blogger di Indonesia dan berinteraksi dengan mereka. Saya ingin mencoba merunut kembali isi otak saya dan menjelaskan alasan mengapa saya kembali ke dunia blog ini. Dengan mengambil kalimat di atas tadi sebagai pembuka, saya akan menghubungkan keduanya untuk melihat apakah kedua istilah itu dapat disetarakan.

Kita tentunya sudah tahu apa itu blog; saya tidak perlu lagi menjelaskan definisinya. Namun jika ditanya tentang aktivitasnya, maka yang paling mencuat adalah kegiatan jurnal harian. Isinya banyak ngalor-ngidul gak karuan; saya mencatat apa saja yang berkecamuk di pikiran dan merekam dunia sehari-hari saya. Kebiasaan menulis jurnal harian ini sebenarnya tidak terlalu telaten juga saya lakukan; hal itu hanya menjadi selingan. Namun di kala mood menulis itu sedang kuat, kata demi kata akan mengalir deras melalui jari-jemari saya.

Apakah yang mendasari hasrat nge-blog ini? Saya menyadari bahwa sesungguhnya saya adalah seorang introvert; cenderung tertutup dan jarang bercerita/ngobrol dengan orang lain. Namun demikian saya menyadari bahwa karakter seperti itu bukanlah karakter yang baik, hanya saja seringkali sulit bagi saya untuk berinisiatif memulai pembicaraan dengan orang lain. Saya kepingin ngobrol; tapi terkadang malu untuk memulai. Maka jadilah tulisan menjadi sarana penyaluran kebutuhan saya akan komunikasi dan sosialisasi tersebut.

Di situlah intinya: saya butuh berkomunikasi guna mengalahkan sifat asli saya yang introvert, sekaligus menjalin pertemanan dengan lebih banyak orang lagi. Saya butuh berkomunikasi juga sebagai sarana aktualisasi diri; sebuah kebutuhan naluriah pada manusia untuk melakukan yang terbaik dari yang dia bisa (dikutip dari sini). Oleh karena saya dapat “berbicara” dengan lebih leluasa melalui media tulisan, maka jadilah blog sebagai salah satu sarananya.

Dari sini saya dapat menarik kesimpulan bahwa meskipun blogging telah menjadi bagian dari kegiatan saya, pada hakekatnya kebutuhan yang sebenarnya bukanlah blogging itu sendiri. Ada sebuah penggerak utama yang lebih besar yaitu aktualisasi diri untuk menjalin komunikasi dengan orang lain. Dari sekian banyak cara untuk melakukan itu, alat yang saya pilih salah satunya adalah ngeblog.

Jadi singkatnya, blogging tidak sama dengan kebutuhan. Blogging hanyalah salah satu bagian dari kebutuhan. Tabik!